Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

edwin's Site

Blog EntryJul 7, '06 12:49 AM
for everyone

Sebuah Resensi dan Renungan

Oleh  Edwin Badrusomad

 

Catatan dari Penulis

Renungan ini diilhami oleh sebuah buku karya Cooper, Robert K., & Sawaf, Ayman, berjudul “Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan dan Organisasi” yang menimbulkan berbagai pertanyaan pada penulis. Namun pertanyaan tersebut seolah terjawab oleh isi ceramah yang dibawakan Ustadz Wafiudin yang bertema Ruh pada Manusia. Keseluruhan renungan ini juga memberikan satu kesimpulan bahwa Al-Qur’an memang diturunkan Allah SWT agar manusia mampu mengoptimalkan kecerdasannya sehingga dapat menjadi rahmatan lil alamiin.

Renungan ini pula telah menggerakkan penulis untuk merintis sebuah program Pemberantasan Buta Bahasa Al-Qurán melalui program Beasiswa Intelektual Al-Qurán (BI-Q) yang telah dimulai sejak Januari 2000, serta berbagai program lain yang saat ini tengah dirintis, Radio BI-Q 99FM dan Buletin BI-Q.

 

Awal Pertanyaan

Tujuh puluh persen sumber energi minyak dan gas dunia saat ini terletak di negara-negara islam.  Minyak dan gas saat ini masih merupakan potensi energi yang masih sangat dominan, sementara berbagai aktivitas dunia sangat bergantung pada energi.

Akan tetapi, sampai sejauh manakah ummat islam mampu menguasai dan mengendalikan potensi yang 70% tersebut ?

Kenyataan yang ada, manajemen, modal, keahlian dan kendali operasional potensi tersebut tidak berada ditangan negara dimana potensi energi tersebut berada. Termasuk Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada potensi sumberdaya lainnya.

Mengapa ?

Mengapa seolah-olah ummat di negara muslim tidak berdaya dan tidak memiliki cukup energi untuk memegang kendali manajemen, modal, keahlian dan kendali operasional terhadap semua sumberdaya yang dimilikinya ?

Mengapa kualitas dan kemampuan ummat islam seolah berada dibawah standar kemampuan ummat lain ?

 

Dasar Kecerdasan Ummat

Jika kekuatan yang mendorong kecerdasan dalam dunia usaha abad ke-20 adalah IQ, maka berdasarkan bukti-bukti yang makin banyak di penghujung abad ke-21, yang akan lebih berperan adalah Emotional Intelligence  dan bentuk-bentuk kecerdasan praktis serta kreatif yang terkait.[1] Serangkaian studi telah membuktikan bahwa orang yang secara intelektual cerdas seringkali bukanlah orang yang paling berhasil dalam bisnis maupun dalam kehidupan pribadi mereka.[2]

Sementara itu para ahli sejarah Islam selalu menyatakan bahwa kemunduran peradaban Islam adalah karena ummat Islam meninggalkan Al-Qurán.

Lalu, adakah keterkaitan antara Al-Qurán dan Emotional Intelligence ?

 

Emotional Intelligence

Emotional Intelligence mencatat empat landasan utama yang akan membangun kecedasan emosi ini:[3]

·  Kesadaran Emosi, untuk membangun tempat kedudukan bagi kepiawaian dan rasa percaya diri pribadi melalui kejujuran emosi, energi emosi, umpan balik emosi, emosi, intuisi, rasa tanggung jawab, dan koneksi.

·  Kebugaran Emosi, mempertegas kesejatian, sifat dapat dipercaya, keuletan, memperluas kepercayaan dan kemampuan untuk mendengarkan, mengelola konflik,  dan mengatasi kekecewaan dengan cara paling konstruktif.

·  Kedalaman Emosi, mengeksplorasi cara-cara menyelaraskan hidup dan kerja dengan potensi serta bakat unik insan dan mendukungnya dengan ketulusan, kesetiaan pada janji, dan rasa tanggung jawab yang pada gilirannya akan memperbesar pengaruh pribadi tanpa mengobral kewenangan.

·  Alkimia Emosi, memperdalam naluri dan kemampuan kreatif untuk mengalir bersama masalah-masalah dan tekanan-tekanan, dan bersaing demi masa depan dengan membangun keterampilan untuk lebih peka akan adanya kemungkinan-kemungkinan solusi yang masih tersembunyi dan peluang yang masih terbuka.

 

Emotional Intelligence dan Qalbu

Diluar Jasad (tubuh), Hayat (nyawa/bio energi), dan Hawa (dorongan keinginan) yang menjadi unsur utama pembentuk manusia,  manusia juga memiliki RUH yang ditiupkan Allah kepadanya. Ustadz Wahfiudin dalam makalahnya “Mengenal Diri”, mendefinisikan RUH sebagai kemampuan memahami pelajaran/konsep yang secara ringkas disebut sebagai kesadaran yang bisa berupa:

·  Kesadaran Intelektual-Rasional (IPTEK)

·  Kesadaran Etis-Moral (HUKUM)

·  Kesadaran Estetis-Artistik (SENI)

·  Kesadaran Relijius-Transcendental (IMTAQ)

 

Didalam Al-Qurán dan Al-Hadits tidak disebutkan bahwa binatang dan tumbuhan memiliki RUH, karenanya mereka tidak memiliki intelektual, moral, seni, maupun iman. Bahwa mereka bisa hidup hal itu disebabkan oleh hayat yang menjadi bagian dari biologi mereka.

 

Dalam Al-Qurán surat 8:24; QS26:88-89; QS22:46, dinyatakan bahwa sentral daripada RUH adalah QALBU.

 

Fungsi Qalbu

Dalam Al-Qurán disebutkan bahwa Qalbu berfungsi untuk:[4]

·  Mengaqal (22:46)

·  Memahami (7:179)

·  Mengobservasi (7:179)

·  Mengimani (5:41 dan 39:45)

·  Merasa (2:260;  40:35;  57:16)

·  Merenungkan/dzikir (50:37;  43:36)

 

Didalam Qalbu tersimpan:

·  Fitrah Allah (Sifat/Ilmu/Qudrat)  QS30:30

·  Format ke Allah an

·  Ilham (QS91:7-8)

·  Bibit Iman/Kesaksian Iman (QS7:172)

 

Dari uraian diatas, jelas dapat disimpulkan bahwa Emotional Intelligence sesungguhnya bersumber dari kecerdasan Qalbu. Sifat-sifat dan fungsi yang ditunjukkan oleh Qalbu menunjukkan sifat dan fungsi yang ditunjukkan oleh Emotional Intelligence. Hanya satu yang tidak disebutkan dalam Emotional Intelligence, yaitu Bibit Iman, kesadaran Relijius-Transcendental.

 

Memelihara dan Meningkatkan Kecerdasan Qalbu

Dalam QS8:24, Allah menyatakan bahwa Qalbu merupakan penghubung antara manusia dengan Allah. Namun Allah juga menyatakan bahwa Qalbu menghadapi beberapa masalah, yaitu kecenderungan untuk:

·  Mengeras (QS2:74)

·  Tertutup (QS42:24)

·  Sakit (QS2:10)

·  Buta (QS22:46)

·  Terjungkir-balik (QS24:37)

·  Gersang (QS3:159)

 

Menghadapi masalah tersebut, sebagai usaha untuk menghindarinya, Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai sumber pedoman. Disamping itu, untuk meningkatkan kecerdasan Qalbu, penguasaan, pemahaman, serta pengamalan Al-Qurán dalam arti Al-Qurán yang berwujud wahyu kepada Nabi Muhammad SAW maupun Al-Qurán dalam wujud alam semesta merupakan cara yang disebutkan sendiri oleh Allah dalam berbagai ayat dalam Al-Qurán.

 

 

Pertanyaan untuk direnungkan

Jika Al-Qurán diyakini dapat memelihara dan meningkatkan kecerdasan Qalbu, bagaimana kita dapat mendorong terbentuknya potensi ummat yang memiliki Kecerdasan Intelektual tinggi dengan Kecerdasan Qalbu yang tinggi pula?

Jika ummat Islam telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Allah telah menggariskan bahwa Al-Qurán adalah petunjuk bagi ummat yang bertaqwa, sampai sejauh mana ummat Islam saat ini mampu menguasai, memahami, dan mengamalkan Al-Qurán (wahyu maupun alam semesta)?

 

Sudah diketahui secara umum bahwa lingkungan dan sistem pendidikan umum di Indonesia sama sekali tidak menunjang ummat Islam untuk dapat menguasai Al-Qurán dan menjadikannya sebagai sumber utama kecerdasan Qalbu manusia. Tak hanya itu, bahkan sebagian sekolah Islam pun hanya mengenalkan Al-Qurán sebatas kemampuan membaca saja. Sedang pemahaman dan penguasaan akan bahasa Al-Qur’an tersisihkan oleh kepentingan akan pemahaman dan penguasaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

 

Kondisi ini secara sistematis telah berhasil diterapkan selama puluhan tahun sehingga tidak mengherankan jika ummat Islam Indonesia  telah kehilangan sebagian generasinya, karena sebagian besar generasi ini tidak mampu memahami bahasa dan kandungan Al-Qurán. Generasi yang dimiliki ummat Islam saat ini adalah sebuah generasi yang sangat menguasai ilmu-ilmu duniawi, tapi sangat bodoh dalam ilmu kesemestaan yang mencakup ukhrawi.

 

Secara sistematis pula kepintaran duniawi yang disertai dengan kebodohan semesta ukhrawi ini telah menciptakan sebuah budaya manusia yang juga duniawi dan cenderung tidak mengindahkan kaidah fitrah manusia seperti yang diamanahkan Al-Qurán, karena isi Al-Qurán nya tidak dikenali dan difahami. 

 

Kondisi sistem pendidikan yang tidak mengalokasikan waktu yang cukup untuk pendalaman Al-Qurán tidak berarti melepaskan tanggung jawab masyarakat muslim untuk membina dan mencetak anak didik dan ummat untuk menguasai dan mendalami Al-Qurán.

 

 

 



[1] Perkins, D., Outsmarting IQ: The Emerging Science of Learnable Intelligence (New York: The Free Press, 1995); Sternberg, R. J., Successful Intelligence (New York: Simon & Schuster, 1996); Farnham, A., “Are You Smart Enough to Keep Your Job?,” Fortune (Jan. 15, 1996); Golemen, D., Emotional Intelligence (New York:Bantam, 1995).

 

[2] Mayer, J.D., & Salovey, P., “The Intelligence of Emotional Intelligence,” Intelligence, 17(1993):433-442

[3] Cooper, Robert K., & Sawaf, Ayman, Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan dan Organisasi; alih bahasa, Alex Tri Kantjono Widodo., Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998.

[4] Wahfiudin, “Mengenal Diri”, Aqabah Sejahtera, 1999.


peradaban wrote on Jul 7, '06
terima kasih, jazakallah kang Edwin semoga ALlah selalu mudahkan akang untuk mencapai semua maksud baiknya Aamien
lunariana wrote on Jul 7, '06
Alhamdulillah... bener2 pakar Project Management nih, soalnya tulisannya runut dan sistematis banget, enak bacanya :-). Diam-diam menyimpan bakat penulis jempolan nih!
edwin64 wrote on Jul 7, '06
Alhamdulillah, Terima kasih. Semoga mendorong energi untuk memastikan putra-putrinya agar betul betul menguasai Qur'an selain disiplin ilmu yang sekarang diarahkan di sekolahnya.
ahmadgibson wrote on Jul 8, '06
Pertanyan-pertanyaan yang mungkin untuk direnungkan ulang:
1. Bila al-Qur'an mampu membangkitkan kecerdasan Qalbu (kecerdasan spiritual?), lalu dengan cara apa/bagaimana kita harus "membaca" al-Qur'an supaya ia bisa menjadi pembangkit kecerdasan Qalbu?
2. Banyak orang yang konon para pembaca setia dan demikian panatik dengan al-Qur'an (sebut saja komunitas yang kini disebut radikalis Islam),malah memperlihatkan sikap yang harus saya sebut sebagai orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan Qalbu.
3.Apakah ketidakmampuan umt Islam mengolah alam karena energi (orang menyebut dengan aura energi) yang dipancarkan oleh umat Islam kini tidak bersahabat dengan energi alam? energi yang dihasilkan oleh prilaku alam yang selalu berdzikir kepada Allah..?
alvinulul wrote on Jul 22, '06
Demikianlah generasi terbaik ummat ini ( Qs 3:110 ) telah membuktikan bahwa Al-quran memang bisa merubah segalanya sebagiamana yang kita lihat di kancah perdaban Islam awal. Kalau kemudian hari ini Al-Quran tidak bisa memberikan energi untuk pembacanya atau bahkan terjadi kehilangan qolbu pada beberapa komunitas Islam. Mungkin ada dua hal penyebabnya:
1. Zaman sudah menjelang akhir. Insya Allah Rosul bersabda pada zaman seperti itu quran hanya akan nampak tulisan tampak ruh pengamalan. Saya rasa tanda-tanda itu sudah ada dihadapan kita.
2. Betapa hari ini di kanan kiri kita terlalu banyak godaan yang kita tidak sempat menepisnya. Godaan itu masuk dari segala penjuru sehingga amat sedikit kita punya waktu untuk berinteraksi dengan alquran ( QS 43 : 36 - 37 ). Akibatnya pemahaman menjadi parsial. Bisa jadi ini menimbulkan dampak yang tadi mas gibson gambarkan.Saya kagum dengan semangatnya Madona yang tidak mengijinkan anak-anaknya untuk menonton televisi terkecuali sudah disensor olehnya. Kenapa ia bisa demikian gigihnya mempertahankab akidah yahudinya ? karena ia tahu itu godaan bagi langkah panjang perjuangan eksitensi yahudi. Sedangkan kita ?

edwin64 wrote on Aug 3, '06, edited on Aug 3, '06
Alhamdullillah... Saat kita menyadari bahwa dunia kita, dunia ummat Islam saat ini demikian jauh dari pemahaman dan penerapan al-Qur'an, maka adalah saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri; Andai kita yang sudah dewasa sudah tak sempat dan tak mampu lagi menyelami al-Qur'an, maka akan kah kita membiarkan anak-anak kita, generasi berikut dibelakang kita terjebak dalam kesalahan yang sama atau malah lebih parah? Akankah mereka menjauh dan lebih jauh dari penyelaman kedalaman al-Qur'an???? Akan kah mereka makin jauh dari kemampuannya untuk mengembangkan al-Qur'an dalam penerepannya? Lalu agar tidak terjadi demikian, apa yang harus kita lakukan? apa yang harus segera kita mulai???
ahmadgibson wrote on Aug 4, '06
Apa sesungguhya yang salah dengan kita, orang tua kita, kakek dan nenek moyang kita; sehingga kita menjadi manusia2 beragama yang tidak mengenal sumber dari "dasar-dasar konseptual"-nya, cacatatan historis kelahirannya yang mengabarkan peristiwa yang t'lah lama kita lupakan. Atau kita sendirikah yg salah...? Dan kesalahan apa itu?
Mungkinkan kita memperbaharui generasi baru kita tanpa mengenal kesalahan-kesalahan itu? Bila tidak, jangan-jangan kita sesungguhnya sedang melakukan kesalahan yang sama dengan cara dan jalan yang berbeda.... Karena, bila untuk melakukan kebaikan memeliki banyak jalan, maka kayanya untuk melakukan sebuah kesalahan pun memiliki jalan yang sama banyaknya atau malah jangan-jangan lebih banyak.
Apa sesungguhnya kesalaha yang telah dan sedang kita lalui dan jalani???
sibin2007 wrote on Mar 21, '08
Sukron akhi,

Nitip ya


Yuk kita bangun generasi qur'ani...
The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani
 Yess!
http://sibin2007.multiply.com/tag/al-qur'an

http://myquran.org/forum/index.php/topic,1490.0.html





Al-Qur'an Online + (Murottal-Tafsir-Asbabun Nuzul)
http://ccc.1asphost.com/assalamtafsir/

Rasulullah SAW bersabda:"Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran".

Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dandisetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan AdDarimi dalam Sunannya (3257)

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'' (Ali 'Imran: 190-191).

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya"

 

"Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur'an? Apakah karena hati mereka terkunci mati?" (QS 47:24)

"Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.".(Al-Israa':82)

"Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat
".(QS. 7:204)

Dari Umar bin al Khatthab ra, (Riwayat Muslim). bahwa Nabi Muhammad saw.bersabda

"Sesungguhnya Allah mengangkat (martabat) sebagianorang dan merendahkan sebagian lainnya dengan sebab Al Qur'an."

 

Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".


edwin64 wrote on Jun 13, '08
Terimakasih akhi...
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.