Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

edwin's Site

Blog EntryJun 14, '08 5:18 AM
for everyone

8 Juni 2008, tak terasa anak pertamaku laki-laki si AA menggenapkan usianya yang ke 14. Saat itu, serba kebetulan, hari Minggu si AA tentunya libur sekolah dan aku pun kebetulan sedang cuti lapangan. Kebetulan pula, kami bisa berdua seharian tanpa ada gangguan dari adiknya, yang biasanya ga bisa jauh dari kakaknya ini. Maka jadilah sehari itu, pada hari ulang tahunnya itu bisa dibilang, kami dua lelaki hanya berdua saja.

Malam itu, sehari menjelang ulang tahunnya, si AA memutuskan untuk menghabiskan harinya di depan komputerku, --hobi utamanya-- hingga tengah malam. Dan benar saja, baru jam 00.30 dia menutup laptop dan pamitan mau tidur. Aku terhenyak dan baru sadar bahwa saat itu anakku ini persis menginjakkan usianya di angka 14. Kutepuk-tepuk pundaknya dan kuusap punggungnya seraya membisikkan ucapan selamat memasuki usia kematangan dengan tiupan doa dan harapan pada Allah yang melindunginya. Ketika dia naik tangga menuju kamarnya, aku tercenung, aku harus berbicara dengannya mengenai pergeseran usia dan periode, dari periode anak-anak ke periode transisi menuju masa akil baligh yang sarat tanggung jawab dibalik hak-haknya. Kuputuskan untuk ngajak dia bicara besok pagi ...

Pagi, jam 6.00 anakku sedang baca majalah di ruang baca lantai atas. Santai sekali, tapi aku tahu saat membaca seperti itu... jika ada suara gledek pun dia ga akan merasa terganggu, tetep asyik membaca. Maka kuputuskan untuk duduk santai disampingnya, sambil baca koran. Aku sendiri grogi, dari mana harus kumulai. Ini pengalaman pertamaku. Aku hanya berketetapan bahwa aku harus membicarakan persoalan seputar hal-hal yang menandai tibanya masa akil baligh bagi seorang lelaki. Dan tentunya, tak akan lepas dari persoalan seks dan sekitarnya. Sesuatu yang harus kusampaikan dengan hati-hati. Sesuatu yang dulu ga pernah diajarkan orangtua ku.

Melalui ujung mataku, kulihat dia mulai memasuki halaman-halaman terakhir majalahnya. Dan ya, ketika dia selesai membaca, dia menggeliat dan ikut melihat koranku. Segera kulipat koran dan ku acak-acak rambutnya. Nyengir dia. Kuputuskan untuk tidak terlalu banyak basa-basi. " Aa, kamu tahu tanda-tanda seorang anak lelaki yang sudah masuk fase akil baligh?"  Dia menggelengkan kepalanya (apa iya ya... fikirku). "Apakah disekolah pernah dibahas tanda-tanda seorang anak yang meningkat remaja?"  Ia menganggukkan kepalanya "Ia sih, pernah didiskusikan kok, misalnya suaranya berubah .. terus ... lainnya ...ya gitu dehhh..."  (... ahhh awal yang bagus untuk bahasan lebih dalam ... batinku).

"Ya, betul sekali ... ketika seorang anak remaja beralih mulai baligh, maka Allah memberinya tanda-tanda yang membedakan dengan anak-anak agar kita tahu bahwa kita sudah baligh".  Anakku mengangguk, terus diam memperhatikan. "Selain ditandai dengan perubahan suara, juga akan diikuti dengan perubahan-perubahan fisik yang lain, termasuk menjadi suka sama lawan jenis. Sudah tahu kan?"  Dia mengangguk. "Ok, salah satu tanda yang sangat penting biasanya terjadi saat kamu tidur, dan saat bangun kamu akan lihat celanamu basah atau agak berlendir ...., tapi bukan ngompol". Kuperhatikan reaksinya, dia seperti berfikir. Diam, menunggu.  "Ya, basah karena kamu bermimpi, dan saat mimpi itu kamu merasakan suatu keadaan yang membuat kemaluanmu mengeras dan mengeluarkan lendir itu". "Nah, dalam ilmu biologi, lendir itulah yang disebut sperma ... tahu kan?"  "Ya, tahu".

"Itu adalah sperma aa yang keluar karena terdorong oleh dorongan seksual yang aa alamai karena aa sudah mulai baligh. Jadi dorongan seksual itu muncul karena aa memasuki usia baligh tadi". "Nah aa tahu kenapa muncul dorongan seksual itu?" , dia geleng kepala. "Dorongan seksual itu muncul agar sperma itu keluar dan jika sperma itu keluar bertemu sel telur seorang perempuan, maka ia akan menjadi janin bayi, seperti yang aa pelajari di ilmu biologi kan?" Ia mengangguk. "Ini merupakan proses alam yang akan menjaga manusia untuk tetap berkembang biak, punya keturunan dan punya anak, sama juga seperti mahluk lainnya. Hanya saja yang membedakan, khusus untuk manusia, Allah mengatur agar manusia menikah dulu sebelum ber-reproduksi".  "Karena jika tidak menikah dulu, maka nanti menjadi tidak jelas siapa anak siapa bapak, dan dengan pernikahan maka manusia menjadi lebih teratur dan terjaga keturunannya".

"Nah persoalanya, dorongan seksual itu, bagi yang sudah baligh bisa muncul kapan saja, terutama saat mendapat rangsangan-rangsangan tertentu. Kemudian, karena rasa suka pada perempuan pada saat baligh ini pun muncul, dorongan seksual ini biasanya muncul sangat kuat justru dari perempuan ini. Tapi, Allah melarang hubungan seksual antara laki dan perempuan diluar nikah ?!"  Anakku mengangguk pasti. "Ia itu kan dosa bab". "Nah... untuk menjaga agar seorang laki-laki baligh tidak terjerumus kedalam hubungan seksual yang diharamkan oleh Allah ini, maka Allah mengharuskan sebuah pernikahan, baru boleh berhubungan seks dan mempunyai keturunan".

"Lalu bagaimana dengan laki-laki atau perempuan yang sudah baligh tapi belum menikah? bagaimana dia harus menahan nafsunya dari dorongan seksual ini? agar terhindar dari perbuatan dosa?  Aa tahu? "  Sejenak dia merenung ... terus menjawab "Sholat kali...?"  Hmmm aku tersenum puas, sambil mengangguk. "Ya, salah satunya dengan memperbanyak shalat, dzikir, puasa, dan menjaga pandangan dari perempuan, tidak berduaan dengan perempuan, kecuali dengan sodara atau ibu".

Kemudian kuteruskan pembicaraanku sambil membetulkan posisi dudukku agar bisa lebih berhadapan dengan anakku ini. "Sesungguhnya, saat seorang lelaki memasuki usia baligh ini, agar tidak terjerumus pada perbuatan dosa akibat dorongan nafsunya, Allah kemudian membantunya dengan mulai memberikan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya, yang apabila ditinggalkan maka akan menjadi dosa.   Sebelumnya, aa shalat, puasa dan beramal sholeh hanya sebagai proses belajar agar terbiasa. Kebaikan dan amal sholeh aa saat anak-anak akan menjadi pahala bagi ayah, ibu dan guru aa, sebagai penghargaan Allah bagi jerih payah mereka mendidik aa. Tapi pada saat aa sudah baligh, malaikat akan mencatat semua perbuatan baik dan buruk aa untuk aa sendiri, bukan untuk orang tua atau guru.

Mulai saat ini, saat aa sudah baligh, apapun yang aa perbuat, itu akan menjadi catatan aa sendiri, yang harus aa pertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah saat kita bertemu dengan Nya di akhirat nanti". Dia merenung ...." Jadi, saat aa mengalami tanda-tanda baligh, bersyukurlah karena saat itu Allah sudah mempercayakan dunia ini melalui kedewasaan aa, dan aa diberi amanah untuk melaksanakan perintah-perintah Allah yang dibawa oleh Rasulullah melalui Quran dan sunnahnya". "jadi, kalau dulu babab atau ibumu membangunkan kamu untuk shalat shubuh adalah karena ingin mendidik aa agar terbiasa, maka sekarang aa harus mampu bangun sendiri karena sekarang shalat adalah kewajiban aa... yang kalau dilaksanakan ataupun ditinggalkan, pasti akan dicatat oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk mendampingi aa setiap saat, setiap detik dan ga pernah tidur".

Pagi itu, hari berlangsung begitu cerah ... pagi itu, rasanya aku benar-benar telah menjadi seorang ayah sejati ... tapi pagi itu juga aku sadar bahwa aku dihadapkan pada satu pertanyaan ... akankah anakku menjadi seorang anak sholeh yang dapat menjadi investasi berkelanjutan hingga aku menghadap hadirat Nya?

.............. Ya Allah ... hamba berserah diri pada Mu, hamba hanya mohon ampunan MU dan mohon petunjuk Mu bagi diriku dan anakku, agar ia senantiasa merindukanMu ....

 


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
zalle wrote on Jun 25, '08
edwin64 said
.............. Ya Allah ... hamba berserah diri pada Mu, hamba hanya mohon ampunan MU dan mohon petunjuk Mu bagi diriku dan anakku, agar ia senantiasa merindukanMu ....

Amien.
Nice story. tfs.

**sambil ngebayangin aku ngomong hal yg sama pada Tsaqif beberapa tahun mendatang.
edwin64 wrote on Jun 26, '08
alhamdulillahh... mudah2an Tsaqif menjadi salah satu "investasi" sejati yang dapat mengalirkan amalan sholeh yang menerus bagi orang tuanya. Sudah berapa tahun umurnya sekarang mas?
zalle wrote on Jun 26, '08
edwin64 said
Sudah berapa tahun umurnya sekarang mas?
Bulan depan baru genap 2 tahun. Jadi masih lama nunggu moment yg sama dengan mas edwin.
edwin64 wrote on Jun 27, '08
wahhh bersyukurlah ... masih banyak waktu untuk memupuknya agar buah dan bunganya menghasilkan amal jariah buat orang tuanya. Selamat berjuang mas ... berjuang yang menyenangkan...
andharaku wrote on Jul 18, '08
Bagus n manfaat banget wacananya...thx ya pak...semoga anak2 laki2 kita semua bisa menjadi anak2 shaleh n jadi anak yg paling banyak manfaatnya juga di dunia ini..amien...
hksuyarto wrote on Jul 22, '08
Alhamdullilah apa yang saya cari saya dapat disini.......

Moment bagsu yang harus saya berikan kepada anak saya yang diperkirakan sudah masuk akil baligh...

Malah saya berpikir lebih jauh bahwa sekarang kita sudah dibelokkan bahwa masa dewasa kalau menginjak umur 17-18 tahun.... yang saya pikir ini kebudayaan barat yang tidak berlandaskan apa2....

Kita harus menhidupkan sunah Rasullulah SAW bahwa dewasa di islam dimulai ketika anak2 kita memasuki masa akil baligh....
tulisan bapak menambah isnpirasi saya untuk berpicara dengan anak saya....

Terima kasih.... Jazakallahu Khairan Katsiron, Heru K Suyarto (http://hksuyarto.wordpress.com)
edwin64 wrote on Aug 6, '08
sama-sama bu ... smoga juga jagoanmu tetap menjadi pengikut Rasulullah yang paling setia dengan contoh dari mama dan papa nya....
edwin64 wrote on Aug 6, '08
Pak Heru, alhamdulillah, saya bahagia sekali bisa memberikan manfaat untuk pa Heru. Betul pak, saya setuju ... kedewasaan seorang anak adalah saat akil baligh, saat dia siap menerima kewajiban2 dari Allah. Dan, tanda nya pun sangat jelas kok ...Salam buat putra Bapak ya...
hksuyarto wrote on Aug 6, '08
Terima kasih Pak Edwin....

Yang berat adalah ketika saya harus mengungkapkan hal-hal ini di kepada anak dimana Mind Set anak sudah terbentuk dari lingkungannya (teman2 sekolah dan saudara2nya) bahwa dewasa itu 17 Tahun.....

Saya hanya mencoba meluruskan, minimal kepada anak dan keluarga saya..., Terima kasih pak semoga keluarga bapak dalam lindunganNYA... Salam untuk semua... dan putranya...
fauzirosid wrote on Jan 23, '10
alhamdulillah saya jadi memiliki bayangan akan bagaimana ketika anak saya si sulung ketika dia menginjak remaja... syukron pa edwin
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.